Hari
Pertama (27 Desember 2013)
Libur
telah tiba, hatiku gembiraaaa (ala Tasya jaman bahula :D)
Liburan
kali ini teman saya Dika, mengajak berlibur ke kampung halamannya di Cilacap.
Konflik batin pun tak terhindarkan dengan dompet saya, mungkin karena akhir
bulan jadi nyaring suara Pedang Pattimura :D Tapi refreshing itu butuh!!
walaupun sekedar menghilangkan virus malas dalam tubuh kita.
Angger
dan Dhimas menggenapi jadi Empat Sekawan. Start pukul 8 pagi, kami mulai memacu
kendaraan menuju Cilacap. Perjalanan pun tak semulus yang diharapkan karena
gerimis pun kadang menyapa dan kondisi jalan yang berlubang sempat membuat ban
motor yang saya kendarai bocor juga. Dengan sisa tenaga yang kami punya
sampailah pada gerbang masuk kota Cilacap.
Sambutan
hangat dari orang tua Dika menyambut kedatangan kami. Sore itu juga kami
langsung menuju pantai Teluk Penyu untuk melihat eloknya matahari terbenam.
Tampak orang-orang berlalu lalang disana,
bersepeda, sepak bola, memancing maupun yang hanya sekedar berfoto ria.
Kami memilih menikmati sunset di jembatan yang berfungsi memecah gelombang
ombak, entah apa namanya, hingga sang surya kembali ke peraduannya.
Malam
pun tiba, seketika rasa kantuk pun mulai menyerang, OK kami menyerah! Lantas
kami menata ranjang dan berharap esok hari energi menjadi full kembali dan
bangun dalam keadaan segar bugar
Hari
Kedua (28 Oktober 2013)
Indahnya
sang sinar mentari menyinari hari ini, tertinggal rupa sang embun yang telah
mengawali pagi. Yaaa . . .Kami kesiangan! Rencana melihat eloknya Sunrise di
Pantai Teluk Penyu pun sirna. Ahh tak apa setidaknya sudah full energy untuk di
habiskan hari ini :D
Setelah
sarapan pagi kami menuju Pantai Teluk Penyu (lagi).
Terlihat
perahu-perahu berjejer sepanjang garis pantai ditemani oleh sang juru mudi yang
setia menunggu pelanggannya menyebrang ke Pulau Nusakambangan. Hari ini kami
mau ekspedisi ke pulau misteri tersebut!
Tawar
menawar harga dengan sang juru mudi pun terjadi, maklum dompet anak kos tak
setebal kulit badak :D hingga mencapai kata “Deal” kami mulai menaiki salah
satu perahu, Rovo Dini dengan pak Anto sebagai Juru mudinya.
Mesin
perahu pun dinyalakan, kami diajak berputar dahulu dan berhenti di dekat
gerbang masuk Lapas Nusakambangan. Lanjut perjalanan melewati kapal tanker yang
standby menunggu pasokan minyak PT.Pertamina, satu dari Samarinda, satunya dari
Singapura. Melewati juga proses pembuatan semen Holcim di pinggiran pantai
dengan konveyor yang terbentang panjang hingga ke pulau. Akhirnya perjalanan
hampir setengah jam kita sampai ke Pulau Nusakambangan.
Ternyata
misteri di pulau ini telah terpecahkan. Sangat jauh terbayang pulau ini yang
kami kira seram dan mengerikan. Ternyata sangat mengagumkan. Hal ini kami lihat
saat berada di Pantai Pasir Putih Karangbolong dan Karangpandan. Pasir yang
putih bersih dan bercahaya seiring terpaaan sang surya. Membuat kita berdecak
kagum akan keindahannya
Puas
bercengkerama disana kami melanjutkan ekspedisi ke dalam benteng peninggalan
Portugis. Sisa-sisa pecahan meriam yang masih jelas terlihat mata. Akar pohon
pun menutupi sebagian bangunan benteng namun kokohnya benteng tak sanggup
membuat bangunan hancur karenanya Didalam
benteng tersebut terdapat beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda, ada
Ruang Komandan, Ruang Intai, Ruang Tahanan, sampai Ruang Penyiksaan. Gelap dan
suasana dalam ruangan tersebut terkadang membuat bulu kuduk berdiri meski di
siang hari.
Lelah
menyusuri pulau akhirnya kami memutuskan menyudahi ekspedisi ini. Juru mudi kami
hubungi, dan dengan segera perahu datang menghampiri. Mengantar kami menyebrang
lautan lagi untuk kembali ke pulau Jawa. Sempat
melihat berbagai lokasi yang biasa
digunakan untuk foto pre wedding. Ahh indahnya . . .
Ngantuk
rasanya seharian kami menyusuri pulau Nusakambangan. Berbagai kenangan indah
telah kami simpan untuk cerita saat masuk kuliah nanti. Hingga malam tiba tak
ada lagi aktivitas yang kami lakukan. Semua sudah kembali menata posisi di
ranjang.
Hari
Terakhir (29 Desember 2013)
Pagi
menjelang, meninggalkan lelah tubuh yang menyerang. Setelah sarapan segala persiapan
dilakukan. Sedih rasanya meninggalkan kota Cilacap ini. Tak lupa kami bertiga
(Dika masih pengen dirumah) pamit dan berterimakasih kepada orang tua Dika yang
telah menampung kami selama di Cilacap dan pasti kerepotan menghadapi kami :D
Selamat Jalan Cilacap Semoga Kami bisa kembali lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar