Senin, 30 Desember 2013

Beribu Kenangan di Nusakambangan



Hari Pertama (27 Desember 2013)

Libur telah tiba, hatiku gembiraaaa (ala Tasya jaman bahula :D) 

Liburan kali ini teman saya Dika, mengajak berlibur ke kampung halamannya di Cilacap. Konflik batin pun tak terhindarkan dengan dompet saya, mungkin karena akhir bulan jadi nyaring suara Pedang Pattimura :D Tapi refreshing itu butuh!! walaupun sekedar menghilangkan virus malas dalam tubuh kita.
Angger dan Dhimas menggenapi jadi Empat Sekawan. Start pukul 8 pagi, kami mulai memacu kendaraan menuju Cilacap. Perjalanan pun tak semulus yang diharapkan karena gerimis pun kadang menyapa dan kondisi jalan yang berlubang sempat membuat ban motor yang saya kendarai bocor juga. Dengan sisa tenaga yang kami punya sampailah pada gerbang masuk kota Cilacap. 




Sambutan hangat dari orang tua Dika menyambut kedatangan kami. Sore itu juga kami langsung menuju pantai Teluk Penyu untuk melihat eloknya matahari terbenam. Tampak orang-orang berlalu lalang disana,  bersepeda, sepak bola, memancing maupun yang hanya sekedar berfoto ria. Kami memilih menikmati sunset di jembatan yang berfungsi memecah gelombang ombak, entah apa namanya, hingga sang surya kembali ke peraduannya.


Malam pun tiba, seketika rasa kantuk pun mulai menyerang, OK kami menyerah! Lantas kami menata ranjang dan berharap esok hari energi menjadi full kembali dan bangun dalam keadaan segar bugar

Hari Kedua (28 Oktober 2013)

Indahnya sang sinar mentari menyinari hari ini, tertinggal rupa sang embun yang telah mengawali pagi. Yaaa . . .Kami kesiangan! Rencana melihat eloknya Sunrise di Pantai Teluk Penyu pun sirna. Ahh tak apa setidaknya sudah full energy untuk di habiskan hari ini :D
Setelah sarapan pagi kami menuju Pantai Teluk Penyu (lagi).
 

Terlihat perahu-perahu berjejer sepanjang garis pantai ditemani oleh sang juru mudi yang setia menunggu pelanggannya menyebrang ke Pulau Nusakambangan. Hari ini kami mau ekspedisi ke pulau misteri tersebut!
Tawar menawar harga dengan sang juru mudi pun terjadi, maklum dompet anak kos tak setebal kulit badak :D hingga mencapai kata “Deal” kami mulai menaiki salah satu perahu, Rovo Dini dengan pak Anto sebagai Juru mudinya. 


Mesin perahu pun dinyalakan, kami diajak berputar dahulu dan berhenti di dekat gerbang masuk Lapas Nusakambangan. Lanjut perjalanan melewati kapal tanker yang standby menunggu pasokan minyak PT.Pertamina, satu dari Samarinda, satunya dari Singapura. Melewati juga proses pembuatan semen Holcim di pinggiran pantai dengan konveyor yang terbentang panjang hingga ke pulau. Akhirnya perjalanan hampir setengah jam kita sampai ke Pulau Nusakambangan.
 

Ternyata misteri di pulau ini telah terpecahkan. Sangat jauh terbayang pulau ini yang kami kira seram dan mengerikan. Ternyata sangat mengagumkan. Hal ini kami lihat saat berada di Pantai Pasir Putih Karangbolong dan Karangpandan. Pasir yang putih bersih dan bercahaya seiring terpaaan sang surya. Membuat kita berdecak kagum akan keindahannya



Puas bercengkerama disana kami melanjutkan ekspedisi ke dalam benteng peninggalan Portugis. Sisa-sisa pecahan meriam yang masih jelas terlihat mata. Akar pohon pun menutupi sebagian bangunan benteng namun kokohnya benteng tak sanggup membuat bangunan hancur karenanya  Didalam benteng tersebut terdapat beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda, ada Ruang Komandan, Ruang Intai, Ruang Tahanan, sampai Ruang Penyiksaan. Gelap dan suasana dalam ruangan tersebut terkadang membuat bulu kuduk berdiri meski di siang hari.

Lelah menyusuri pulau akhirnya kami memutuskan menyudahi ekspedisi ini. Juru mudi kami hubungi, dan dengan segera perahu datang menghampiri. Mengantar kami menyebrang lautan lagi untuk kembali ke pulau Jawa. Sempat  melihat berbagai lokasi yang biasa  digunakan untuk foto pre wedding. Ahh indahnya . . .
Ngantuk rasanya seharian kami menyusuri pulau Nusakambangan. Berbagai kenangan indah telah kami simpan untuk cerita saat masuk kuliah nanti. Hingga malam tiba tak ada lagi aktivitas yang kami lakukan. Semua sudah kembali menata posisi di ranjang.

Hari Terakhir (29 Desember 2013)

Pagi menjelang, meninggalkan lelah tubuh yang menyerang. Setelah sarapan segala persiapan dilakukan. Sedih rasanya meninggalkan kota Cilacap ini. Tak lupa kami bertiga (Dika masih pengen dirumah) pamit dan berterimakasih kepada orang tua Dika yang telah menampung kami selama di Cilacap dan pasti kerepotan menghadapi kami :D Selamat Jalan Cilacap Semoga Kami bisa kembali lagi.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar